Tenaga kerja Oracle menyusut sekitar 21.000 karyawan selama setahun terakhir karena raksasa database tersebut menjalani restrukturisasi besar-besaran yang disebabkan oleh penerapan kecerdasan buatan, menurut laporan dari Reuters, BBC, dan CNBC.

Pengurangan lapangan kerja, yang terungkap pada 23 Juni 2026, disertai dengan biaya restrukturisasi sebesar $1,8 miliar yang dilaporkan. Hal ini merupakan salah satu kontraksi tenaga kerja terbesar di sebuah perusahaan teknologi besar yang secara eksplisit terkait dengan adopsi AI, dan hal ini terjadi di tengah gelombang PHK yang lebih luas terkait AI yang melanda industri teknologi. For more context on this story, see our ongoing AI industry coverage.

AI sebagai Pengemudi yang Dinyatakan

Beberapa media yang melaporkan pemotongan tersebut menyebutkan adopsi AI sebagai faktor pendorong di balik restrukturisasi Oracle. Perusahaan ini telah berinvestasi secara agresif pada infrastruktur AI dan layanan cloud, memposisikan diri untuk bersaing di era di mana beban kerja AI mengubah tuntutan terhadap perangkat lunak dan sistem database perusahaan.

Menurut Forbes, Oracle telah secara terbuka mengakui bahwa kecerdasan buatan (AI) telah menjadi salah satu faktor hilangnya lapangan kerja, sehingga menjadikan perusahaan tersebut salah satu contoh paling menonjol dari raksasa teknologi yang secara langsung mengaitkan pengurangan tenaga kerja dalam skala besar dengan perubahan operasional yang didorong oleh AI.

BBC melaporkan bahwa Oracle memangkas 21.000 posisi “sehubungan dengan penerapan AI,” sementara CNBC menggolongkan pengurangan tersebut sebagai bagian dari “gelombang PHK AI dari raksasa teknologi” – menunjukkan bahwa tren tersebut tidak hanya terjadi pada satu perusahaan saja.

Label Harga $1,8 Miliar

Biaya restrukturisasi sekitar $1,8 miliar menggarisbawahi skala transformasi Oracle. Angka tersebut biasanya mencakup paket pesangon, konsolidasi fasilitas, dan biaya reorganisasi unit bisnis agar selaras dengan arah strategis baru.

Bagi Oracle, arah tersebut semakin berpusat pada AI. Perusahaan ini telah membangun infrastruktur cloud untuk mendukung pelatihan AI dan beban kerja inferensi, bersaing dengan Amazon Web Services, Microsoft Azure, dan Google Cloud untuk mendapatkan pangsa pasar komputasi AI yang berkembang pesat.

Pengurangan tenaga kerja menunjukkan bahwa Oracle yakin mereka dapat beroperasi lebih efisien dengan proses yang ditambah dengan AI, meskipun mereka berinvestasi besar-besaran pada infrastruktur AI. Pola ini mencerminkan apa yang digambarkan oleh perusahaan besar lainnya: menggunakan AI untuk mengotomatiskan operasi internal sekaligus membangun produk dan layanan AI untuk pelanggan.

Sinyal yang meresahkan bagi Saham

Meskipun ada restrukturisasi yang agresif, pemotongan tersebut tidak banyak meningkatkan kepercayaan investor dalam jangka pendek. Barron's melaporkan bahwa restrukturisasi Oracle yang didorong oleh AI "tidak banyak membantu saham," dan mencatat bahwa saham-saham telah mengalami kesulitan bahkan ketika perusahaan beralih ke AI.

Keterputusan ini menyoroti meningkatnya ketegangan di sektor teknologi: perusahaan-perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja yang menyakitkan atas nama transformasi AI, namun manfaat finansial dari pengurangan tersebut tidak selalu langsung terlihat oleh investor. Pengalaman Oracle menunjukkan bahwa pasar masih skeptis mengenai apakah peningkatan efisiensi yang didorong oleh AI akan menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang berarti dengan cukup cepat untuk membenarkan gangguan tersebut.

Waktunya juga penting. PHK yang dilakukan Oracle terjadi karena saham Alphabet juga berada di bawah tekanan, bukan didorong oleh PHK tetapi oleh gelombang keluarnya talenta-talenta terkenal dari Google DeepMind. Secara keseluruhan, perkembangan ini memberikan gambaran tentang industri teknologi yang tengah melakukan penyesuaian besar terhadap AI.

Bagian dari Pola yang Lebih Luas

Oracle tidak sendirian dalam menghubungkan PHK dengan AI. Di sektor teknologi, perusahaan semakin banyak yang menyebut otomatisasi AI sebagai pembenaran pengurangan tenaga kerja. Karakterisasi CNBC mengenai "gelombang PHK AI" menunjukkan bahwa kontraksi 21.000 pekerjaan di Oracle mungkin merupakan salah satu contoh terbesar, namun ini adalah bagian dari tren sistemik.

Apa yang menjadikan kasus Oracle sangat penting adalah besarnya skala pengurangan dibandingkan dengan total tenaga kerja perusahaan. Pemotongan sebesar ini pada perusahaan sebesar Oracle mencerminkan restrukturisasi mendasar dalam cara organisasi beroperasi — bukan sekadar pemangkasan taktis terhadap divisi-divisi yang berkinerja buruk.

Kerugian Manusia akibat Transformasi AI

Hilangnya 21.000 pekerjaan di Oracle mewakili karier nyata yang terganggu oleh perubahan teknologi. Seiring dengan semakin cepatnya penerapan AI di dunia perangkat lunak perusahaan, para pekerja dengan peran yang dapat diotomatisasi – mulai dari dukungan pelanggan dan fungsi administratif hingga jenis pengembangan dan pengujian perangkat lunak tertentu – menghadapi ketidakpastian yang semakin besar.

PHK Oracle merupakan pengingat bahwa revolusi AI tidak hanya menciptakan peluang baru di bidang-bidang seperti teknik pembelajaran mesin dan infrastruktur AI, namun juga menghilangkan posisi-posisi yang dulunya dianggap sebagai jalur karier yang stabil. Bagi angkatan kerja yang lebih luas, pertanyaannya adalah apakah lapangan kerja yang diciptakan oleh AI akan melebihi jumlah lapangan kerja yang digantikannya – dan apakah pekerja yang dipindahkan dapat dilatih ulang dengan cukup cepat untuk mengisi lapangan kerja tersebut.

Ketika semakin banyak perusahaan yang mengikuti jejak Oracle dalam menghubungkan pengurangan tenaga kerja dengan AI, perdebatan mengenai dampak teknologi terhadap lapangan kerja kemungkinan akan semakin meningkat, dengan implikasi yang signifikan bagi pekerja dan pembuat kebijakan di tahun-tahun mendatang.

---

Stay Ahead of AI

Get the latest AI news, analysis, and breakthroughs — all in one place.

Read more AI news →