Laporan setebal 40 halaman ini mengacu pada data survei dari 36 negara anggota di Afrika dan menyoroti apa yang disebut oleh badan tersebut sebagai sebuah perubahan besar: kejahatan dunia maya telah berevolusi dari insiden yang terisolasi menjadi ekosistem industri dan tanpa batas. Afrika mencatat lebih dari 1,1 miliar pelanggan seluler pada tahun 2025, dan ekspansi digital yang pesat tersebut telah melampaui pertahanan benua tersebut. INTERPOL mencatat bahwa undang-undang kejahatan dunia maya masih terfragmentasi dan kesiapan AI di dalam lembaga penegak hukum “sangat rendah.” For more context on this story, see our ongoing artificial intelligence updates.
Kerugian Meningkat Lebih dari Dua Kali Lipat
Kerugian finansial meningkat tajam. Menurut laporan tersebut, kerugian akibat kejahatan dunia maya di Afrika meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2024, meningkat dari USD 192 juta menjadi USD 484 juta. INTERPOL mengaitkan lonjakan ini terutama dengan penipuan yang difasilitasi AI, pengambilan kredensial, dan kampanye rekayasa sosial otomatis – kategori-kategori yang belum ada pada skala ini sebelum AI generatif menurunkan biaya produksi konten penipuan yang meyakinkan.
Penipuan online tetap menjadi jenis kejahatan dunia maya yang paling banyak dilaporkan pada tahun 2025, menurut laporan tersebut, dengan penyerang yang mengeksploitasi platform uang seluler, media sosial, dan AI untuk mencapai target. INTERPOL melaporkan bahwa 72 persen negara yang disurvei mencatat keberadaan pusat penipuan, yang paling banyak terkonsentrasi di Afrika Selatan dan Barat.
Perincian Ancaman Regional
Laporan tersebut memetakan geografi kriminal yang berbeda-beda di seluruh benua:
- Afrika Timur muncul sebagai pusat penipuan uang seluler dan ransomware yang menargetkan infrastruktur.
- Afrika Tengah dan Barat mengalami banyak penyusupan email bisnis dan penipuan percintaan yang menyasar korban korporat dan individu.
- Konektivitas ultra-tinggi Afrika Selatan menjadikannya magnet bagi pelaku ancaman global yang mencari gangguan maksimal.
Mosaik regional ini mencerminkan bagaimana kondisi lokal – infrastruktur pembayaran, konektivitas, dan kapasitas kepolisian – terbentuk di mana model bisnis kriminal tertentu mengakar.
Deepfake dan Penipuan yang Dihasilkan AI
Beberapa temuan paling mencolok dalam laporan ini berkaitan dengan media sintetis yang dihasilkan oleh AI. Pemerasan digital dan pelecehan online, yang sering kali difasilitasi oleh deepfake dan media sintetis yang dihasilkan oleh AI, masih terus meluas. TrendAI, salah satu dari beberapa mitra yang bekerja dengan INTERPOL, mencatat sekitar 600.000 deteksi pemerasan seks.
Skema kompromi email bisnis (BEC) juga berkembang jauh lebih canggih. INTERPOL melaporkan bahwa AI kini digunakan untuk menghasilkan korespondensi email yang sangat meyakinkan, dengan pelaku ancaman yang berbasis di Afrika menargetkan korban di Eropa dan Amerika Utara sambil mengarahkan aktivitas mereka melalui infrastruktur yang tersebar di berbagai yurisdiksi. Hasilnya adalah serangan yang lebih sulit untuk diatribusikan, lebih sulit untuk dilacak, dan jauh lebih meyakinkan bagi karyawan dan eksekutif yang menjadi sasarannya.
Tanda Peringatan Global
Meskipun laporan ini berfokus pada Afrika, dampaknya bersifat global. Dinamika yang sama yang digambarkan INTERPOL – AI membuat penipuan menjadi lebih terukur, deepfake mengikis kepercayaan terhadap bukti digital, dan rekayasa sosial otomatis yang membebani penegakan hukum yang kurang siap – terjadi di setiap benua. Angka kerugian yang berlipat ganda dalam satu tahun memberikan gambaran nyata tentang dampak kejahatan yang disebabkan oleh AI jika alat generatif terus berkembang biak.
Penilaian INTERPOL pada akhirnya merupakan seruan untuk menutup kesenjangan antara kecepatan kejahatan yang disebabkan oleh AI dan kapasitas lembaga-lembaga yang dimaksudkan untuk menghentikannya. Karena AI kini terlibat dalam sebagian besar kejahatan siber yang dilaporkan di seluruh wilayah, pesan dari badan ini adalah bahwa kesiapan defensif AI tidak bisa lagi menjadi sebuah pemikiran belaka.
Sumber
- INTERPOL, Laporan Penilaian Ancaman Siber Afrika 2026 (3 Agustus 2026, Lyon, Prancis)
---
Stay Ahead of AIGet the latest AI news, analysis, and breakthroughs — all in one place.
Read more AI news →

